Category: Organisasi

Dua

Adakah yang pernah merasa kecewa, putus asa, hingga merasa tak lagi bisa apa-apa? Pastinya kita semua pernah mencicipi masa-masa pahit dalam perjalanan hidup kita, hingga hidup dalam keberpura-puraan menjadi salah satu pilihan ketika keinginan tak lagi bisa diwujudkan.

Akhir-akhir ini banyak diantara kita yang semakin hari semakin jenuh dan penat merasakan keadaan di sekitar. Mulai dari maju-mundurnya jadwal perkuliahan, padatnya kegiatan diluar perkuliahan, hasil pencapaian target yang tidak sesuai harapan, dan masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu per satu. Namun jika kita amati bersama, ternyata juga tidak ada perubahan yang signifikan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Entah itu sudah melalui beberapa perjuangan maupun hanya bisa terdiam menunggu asa yang mati di dalam.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekeliling kita? Apa yang bisa memunculkan keadaan yang saat ini tengah kita rasakan? Bagaimana keadaan seperti ini ada dan tetap bertahan hingga akhirnya menjadi sesuatu yang kita anggap biasa? Pertanyaan-pertanyaan itu pun mulai memutari isi kepala kita hingga memunculkan banyak pertanyaan lain yang kita sendiri masih menerka-nerka dan mencari tahu jawabannya.

Karena sudah banyak yang meresahkannya, sepertinya menarik untuk mengulik dari berbagai sudut pandang mengenai persoalan kehidupan kampus kita.

Pertama, saya merasa bahwa kita sendiri masih belum sepenuhnya sadar akan peran dan tugas kita sebagai mahasiswa yang kerap diberi label kaum intelektual di negeri ini. Masih banyak yang merasa tugas kita hanya untuk datang kuliah, memperhatikan dosen, menyelesaikan tugas yang diberikan, dan kembali pulang ke rumah. Masih banyak yang belum paham mengenai aktualisasi Tri Dharma Perguruan Tinggi beserta peran kita di dalamnya. Dan tentunya masih banyak yang acuh tak acuh terhadap kondisi yang ada di sekitar kita terutama di kampus tercinta Fakultas Kedokteran Universitas Jember.

Kedua, menurut saya masih banyak aktivis yang minim pengetahuannya soal berorganisasi. Masih banyak yang asal bikin kegiatan, tidak paham betul latar belakang dan urgensinya. Masih banyak yang malu berinisiasi atau bermental “mlempem”, masih banyak yang mengikuti arus dari tahun-tahun sebelumnya. Saya pun masih belum mengerti mengapa jadwal kegiatan non-akademik (di luar perkuliahan) bisa sebegitu padatnya, mungkinkah karena belum adanya peraturan soal pengajuan dan penerimaan kegiatan, mungkinkah karena tidak ada audit kegiatan oleh pihak BEM maupun dekanat, atau justru karena tingginya rasa ‘ingin lebih dari yang lain’ di setiap ormawa sehingga saling bersaing untuk mengadakan kegiatan agar banyak peminatnya maupun uangnya?

Ketiga, jajaran pemangku kebijakan paling tinggi di kampus yang masih kurang mendukung dan mengayomi anak-anaknya, bisa menjadi salah satu penyebab overload nya kegiatan tadi. Mereka hanya butuh hasil laporan pertanggung jawaban (LPJ) kegiatan sesuai dengan nominal yang mereka berikan. Aspirasi yang kita sampaikan baik melalui BPM maupun secara individual pun sering kali mendapat hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Serta jarangnya melihat mereka menghadiri undangan pembukaan acara yang diadakan teman-teman ormawa. Saya pun masih merasa hubungan antara orang tua dan anaknya ini kurang harmonis, bisa dilihat dari usaha memajukan kampus yang seharusnya dilakukan secara kompak dan sinergis.

Mungkin masih ada lagi yang belum saya bicarakan, namun sudahkah masing-masing dari kita mencari solusi dan berusaha memperbaikinya? Sudahkah kita peduli terhadap lingkungan sekitar dan berani mengambil tindakan? Sudahkah kita berintrospeksi dan belajar dari yang tak berkesudahan?

Jika rasa saling memiliki dan saling mencintai kampus masih kurang dalam diri kita, lalu bagaimana bisa kita bergabung menjadi satu kesatuan untuk berjuang atas nama FK UNEJ? Jika tujuan kita masih terpecah belah oleh berbagai kelompok maupun golongan, bagaimana bisa kita berjalan seirama berjuang untuk skala yang lebih besar atas nama FK UNEJ? dan jika hubungan diantara kita masih kurang harmonis, lalu bagaimana bisa satu keluarga yang ditempa, dibina, dan dibesarkan di rumah yang sama menciptakan lingkungan yang nyaman bagi penghuninya?

Jangan ucapkan selamat pada jiwa-jiwa yang belum tentu selamat, berbelasungkawalah pada nafas yang terbuang sia-sia. Lebih baik sengsara dalam nafas pengorbanan dari pada terus menerus hidup dalam kebohongan. Tak ada yang lebih bernilai dari melakukan suatu hal tapi salah dari pada sembunyi dan berdiam dalam sebuah kesangsian. Sekarang atau tidak sama sekali. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi?