Satu

Satu Cita, Satu Cinta, Satu Keluarga. #FKUnejUnite

Pondasi oh pondasi. Jikalau pondasinya saja masih belum kokoh, sebuah bangunan tak akan lama berdiri.
Aksi oh aksi. Jikalau motivasi hanya diterima kuping kanan keluar kuping kiri.
Orientasi oh orientasi. Jikalau dari awal sudah disorientasi, mengikuti arus malnutrisi.
Oh kolaborasi, dimana ada persatuan?
Oh sinergisasi, dimana ada kebhinekaan?

Enam belas tahun sudah kampusku berdiri, 2 tahun lebih 6 bulan aku mencari kitab suci. Namun kurasa semuanya perlu berbenah diri, sudah semestinya belajar sampai mati. Karena hidup tak pernah berhenti memberi pelajaran, apa masih mau berdiam diri.

Mahasiswa adalah kaum intelektual muda yang mempunyai peran (Agent of change, Social control, Iron stock) dalam mewujudkan Tridharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan pengembangan, Pengabdian Masyarakat) dalam membangun Bangsa dan Negara. Namun saya rasa di lingkungan mahasiswa FK UNEJ masih banyak yang belum memahami dan menyadari pentingnya peran tersebut beserta aktualisasinya. Mungkin karena pemahaman waktu ospek cuma fokus belajar aja, apalagi kalau sudah ideologi dari stakeholdernya. Mungkin.

Tentu sangatlah perlu adanya wadah kemahasiswaan yang menampung aspirasi mahasiswa dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan mahasiswa untuk memaksimalkan peran tersebut yang terwujud dalam Organisasi mahasiswa (Ormawa). Wadah tersebut sangatlah penting karena membantu meningkatkan soft skill yang nantinya membedakan output mahasiswanya setelah terjun ke masyarakat. Namun saya rasa pun di lingkungan mahasiswa FK UNEJ, wadah wadah tersebut belum berjalan optimal. Banyak permasalahan di lingkup internal maupun eksternal Ormawa FK UNEJ yang belum menemui titik terang di masa sekarang.

Dalam lingkup FK UNEJ ada tiga lembaga yang tergabung dalam struktural organisasi mahasiswa tingkat fakultas menurut SK Rektor tahun 2015 yaitu BEM sebagai lembaga eksekutif, BPM sebagai lembaga legislatif, dan UKM sebagai wadah pengembangan minat dan bakat mahasiswa. Hubungan antar lembaga tersebut yaitu yang paling tinggi adalah BPM dibawah PD3, lalu dibawah BPM ada BEM, serta UKM dibawah BEM. Fungsi pengawasan, anggaran, dan legislasi dipegang oleh BPM. Fungsi eksekusi berada pada BEM, serta UKM menjalankan kegiatan pengembangan minat dan bakat dibawah BEM dengan fungsi koordinasi.

Saya berpendapat bahwa ada 3 poin yang bisa merepresentasikan kondisi yang belum menemui titik terang tadi. Pertama, sumber daya manusia yang sekiranya masih minim. Kedua, overload kegiatan mahasiswa yang cenderung berporos pada organisasi mahasiswanya. Yang terakhir adalah jumlah mahasiswa yang lumayan banyak memilih untuk apatis. Menurut saya, banyak organisasi mahasiswa yang belum menyadari atau acuh tak acuh terhadap 3 poin tersebut yang padahal sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan dan keefektifan ormawa tersebut.

Banyak yang mengeluh terlalu banyak kegiatan, hingga bingung untuk memposisikan dirinya ada dimana, dibuat lelah sehingga jam belajar terkuras, dan beberapa akhirnya memutuskan untuk berhenti. Menurut saya hal tersebut dikarenakan keseluruhan ormawa memang tidak terorganisir secara baik dan efektif. Apabila ada sebuah sistem yang mengikat seluruh mahasiswa dengan tujuan menyatukan mahasiswa tersebut, mensinergiskan antar ormawa, dan menyadarkan betapa pentingnya organisasi mahasiswa kepada seluruh mahasiswa, pasti akan jauh lebih efektif.

Keapatisan mahasiswa bisa timbul oleh karena mahasiswa tersebut tidak menyadari pentingnya kegiatan kemahasiswaan ataupun gagal dibuat paham dan sadar pada saat pertama kali ditempa dan dibina waktu Ospek. Ditambah lagi tidak ada sistem yang mengikat mahasiswanya seperti Reward and Punishment terhadap keaktifan berkegiatan yang menurut saya perlu untuk menunjukkan betapa pentingnya keberadaan organisasi mahasiswa bagi mereka maupun FK UNEJ sendiri. Mungkin juga karena memang dari dulu para pemangku kepentingan ormawa belum bisa menyadarkan stakeholder. Andai saja ormawa bungkam satu tahun. Sinaps, Klub belajar, PKM, Simposium, HC, Imedfest, Dekan Cup, Baksos, Desa Binaan, Latihan rutin seni dan olahraga; semuanya lenyap, yang dibuat bingung pertama kali pasti stakeholder hehe renstranya ngga ada yang ngesuport, yang selanjutnya pun mahasiswa non ormawa juga bingung ini kampus apa kuburan kok sepi amat.

Poin kedua bisa terjadi karena memang tidak ada wadah atau sistem yang masif mengikat dan menghubungkan arah pergerakan masing-masing ormawa. Banyaknya kegiatan dengan tujuan sama, tumpang tindih arah pergerakan, yang berujung pada berpikir keras mengatur anggaran, menghimpun dana, mengatur SDM panitia maupun sasaran yg notabennya banyak yg sama, dll. Saya juga melihat masih banyaknya ideologi yang berporos pada suatu ormawa maupun kelompok di angkatan hehe padahal jika dipikir lebih jauh dan jernih semua ormawa tersebut mengatasnamakan mahasiswa, terbukti pada namanya masing-masing. Tidak kah mereka sadar bahwa mereka dibina, ditempa dan dibesarkan di rumah yang sama, Fakultas Kedokteran Universitas Jember? Apakah ini memang suatu gambaran para dokter ketika sudah terjun di masyarakat? Apa benar peribahasa kacang lupa kulitnya itu riil?

Menurut saya, poin pertama tadi sulit untuk diubah oleh mahasiswa, namun poin kedua dan ketiga sangatlah mungkin untuk diperbaiki. Lalu siapa yang berkewajiban memperbaiki hal tersebut? Jawabnya adalah kita, semua mahasiswa FK UNEJ. Karena bagaimana pun juga seluruh elemen mahasiswa FK UNEJ mempunyai peran dalam membangun FK UNEJ. Ketika semua elemen paham posisi dan perannya, paham betapa penting kegiatan mahasiswa, peka kondisi dan situasi di sekitarnya, paham betapa kesejawatan bagaikan keluarga sendiri, paham betapa penting arti kebhinekaan, dan yang paling penting mau untuk berjuang demi kebenaran, akan lah sangat mungkin tercipta harmonisasi untuk kemajuan FK UNEJ, almamater, dan Indonesia tercinta.

Meskipun dulu kita kurang diberi pemahaman hal seperti ini pada saat kaderisasi, namun saya rasa generasi selanjutnya sangat lah membutuhkannya di masa yang akan datang. Mari bersama sama berintrospeksi dan berbenah diri untuk FK UNEJ yang lebih baik. Semoga ke depannya para petinggi ormawa terutama pemangku kebijakan bisa meningkatkan penyaluran aspirasi mahasiswa serta penindaklanjutan realisasinya, mengefektifkan kegiatan, meningkatkan minat dan bakat, serta menumbuhkan suasana harmonis antar civitas akademika. Apa yang kita berikan kepada calon kader pada saat kaderisasi maba maupun sebelum masuk ke organisasi, sangatlah berpengaruh terhadap bagaimana outputnya nanti.

Ingat siapa kita, ada dimana kita, mau kemana kita. Bayangkan jika disekitarmu berjalan tidak lagi atas nama kelompok, atas nama angkatan, atas nama organisasi, pre-klinik maupun klinik, dosen maupun mahasiswa. Bayangkan jika disekitarmu mempunyai satu cita yang sama tuk diwujudkan, cinta yang sama pada kampus dan almamater, rasa solid yang sama bagai keluarga. Sudah saatnya kita bangkit bertindak, bersatu dalam sebuah ikatan harmonis atas nama mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jember.

Salam #1Cita1Cinta1Keluarga , Ahmad Baihaqi 142010101030.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s